Pada suatu hari …

Pada suatu hari, sebuah masyarakat di suatu kampung mendapatkan kabar bahwa terdapat sebuah kerajaan yang luasnya tidak dapat dibayangkan, berada dibalik pagar yang mengelilingi kampungnya. Kerajaan melarang siapa pun menempati wilayah kerajaan, sehingga dijaga ketat walau tidak terlihat dari balik pagar. Namun semakin kita mendekat ke pusat kerajaan, maka penjagaan akan semakin ketat. Selain penjagaan yang ketat, informasi lain adalah sang raja akan berkunjung ke masyarakat tersebut, namun belum diketahui kapan waktunya.

Beberapa orang dengan kecerdasan dan kekuatannya mengajak sebagian lainnya untuk menguasai lahan dibalik pagar. Mereka terkadang harus menghadapi rintangan, mulai dari hewan penjaga, perangkap hingga pasukan patroli yang berkeliling. Pelanggaran ini terus dilakukan, hingga menjadi suatu tradisi yang diajarkan kepada anak-anak generasi penerus.

Beberapa pelanggaran berhasil menduduki beberapa kastil kecil milik kerajaan, namun hanya menimbulkan peperangan yang lebih besar. Dibandingkan dengan mengambil kastil lain dengan penjagaan lebih ketat, beberapa orang justru ingin mengambil kastil dari pemimpin pasukan. Peperangan saudara pun tidak dapat dielakkan. Banyak strategi dilakukan, menjadikan pemimpin tiap lantai kastil, membuat badan-badan bayangan yang menjadikan mereka terpandang dengan banyak kenikmatan diberikan. Masih ada beberapa orang yang mencoba mengambil kastil kerajaan lain dengan menghimpun kembali tenaga, hingga menciptakan teknologi untuk menghancurkan kastil tersebut. Fenomena ini bahkan menjadikan mereka berlomba lomba dalam melakukan pelanggaran untuk menguasai kastil kerajaan.

Namun demikian, ada kumpulan pemuda yang berfikir dengan cara berbeda. Mereka hidup diwilayah yang ada, tanpa melanggar pagar kerajaan. Mereka tetap ramah terhadap masyarakat, bukan untuk menggalang kekuatan demi menguasai kastil. Mereka tetap berlatih memperkuat fisik, bukan untuk melawan penjaga kerajaan.Mereka belajar ilmu pengetahuan, bukan untuk menciptakan peralatan perang melawan kerajaan. Mereka melakukannya karena raja menyukai orang yang santun, kuat dan cerdas, sehingga raja akan mencintai mereka. Walau mereka tidak tahu pasti kapan akan bertemu dengan sang raja, mereka mencukupkan kesehariannya di luar wilayah kerajaan yang dilarang.

Mereka berharap, ketika sang raja berkunjung, raja akan mencintai mereka, karena tidak melanggar larangan dan melakukan apa yang dicintai oleh sang raja. Karena ketika raja sudah cinta, maka mereka akan dipersilahkan masuk wilayah kerajaan. Tanpa rasa bersalah, tanpa pertentangan, tanpa khawatir dengan jebakan, bahkan akan disambut dengan pelayan kerajaan lengkap dengan seluruh kenikmatan. Menjadi orang yang dicintai raja, di dalam kerajaan tak terbatas, dengan kenikmatan yang tiada terkira.

Namun apa yang terjadi kepada mereka yang telah melewati pagar kejaraan? Memiliki kastil dengan penuh kecemasan dan peperangan, setelah itu raja akan menjatuhkan hukuman yang keras kepada orang tersebut.

Semoga ada hikmahnya..

Dipublikasi di HIDUP | Meninggalkan komentar

Indera dan Akal Manusia

Saat ini banyak orang yang banyak mengeluarkan pendapat, padahal ia bukan orang yang terlibat banyak di dalamnya. Hal ini sangat berbahaya, karena kita akan disibukkan oleh pendapat sosial, dibandingkan pendapat pakar atau memang praktisi di bidangnya. Berkah dari langkah kaki yang berjalan, berkah dari waktu yang diluangkan, berkah dari tatapan para guru peradaban.

Memang beginilah sistem yang disiapkan, sistem yang mudah, sistem yang dapat diakses dimana pun, sistem yang membuat setiap orang berhak berpendapat sesuai pendapat dan ilmunya. Ya, semua kebutuhan manusia coba dipenuhi dengan ‘remote system’, kita tidak perlu berniat untuk mendapatkan sesuatu yang awalnya kita merasa hal tersebut tidak penting. Bersamaan dengan itu, hilanglah keberkahan dari majelis ilmu yang seharusnya membuat setiap orang berbondong-bondong, menatap mata saudaranya dan memahami sesuatu dalam kondisi yang sama dengan saudaranya.

Lantas apa hubungannya dengan indera? Teknologi ‘remote system’ ini telah memenuhi hampir seluruh kemampuan indera manusia. Awalnya hanya masuk melalui suara, setiap orang dapat menghubungi dan merekam pesan untuk disampaikan, hingga saat ini setiap orang dapat menyebarluaskan pesan suaranya. Lalu mencoba memenuhi kemampuan mata untuk membaca huruf dan membaca gambar, hingga saat ini setiap tulisan ataupun gambar dapat dipaksakan kepada setiap orang.

Tidak terbatas pada hal tersebut, teknologi sekarang mencoba membuat fisik kita ikut dikendalikan dari jauh dengan interaktif fisik, serta kesan bahwa apa yang kita lihat dan dengar dapat pula kita rasakan. Bukan mustahil, kedepannya ada teknologi untuk merangsang indera penciuman kita dari jauh.

Terkait dengan akal, kita akan membicarakan isi dari teknologi saat ini. Dengan perbedaan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia senang untuk mencari tahu apa yang terjadi diluar sana secara real time, bahkan sebelum informasi tersebut utuh. Kenyataan ini ada baiknya, namun sangat sedikit pembelajarannya. Karena informasi yang belum lengkap ini akan membawa manusia kepada angan-angan yang tidak terbatas. Pembelajaran akan lebih banyak membentuk akal manusia jika kita mencoba melihat sejarah yang telah terjadi, lengkap dengan sebab dan akibatnya.

Namun setelah indera dan akal dipenuhi sesuai dengan kemampuannya, manusia membutuhkan lebih dari indera dan akal, untuk menjalani kehidupannya. Walaupun penemuan-penemuan digunakan untuk meningkatkan kemampuan dan kenikmatan akan penggunaan indera, tetap saja indera dan akal hanyalah sebuah sarana untuk hidup. Untuk apa kita hidup? Untuk apa kita memenuhi kemampuan indera dan meningkatkan kemampuan akal kita?

Dipublikasi di HIDUP | Meninggalkan komentar

Mencari Bumi dan Langit

Inilah manusia, terkadang mereka terjebak oleh nikmat yang dititipkan padanya. Pada awalnya kita merasa merangkak itu sulit, karenanya kita menangis. Lalu kita merasa berjalan itu sulit, maka kita merangkak. Kita juga sempat merasa bahwa berlari hanya akan membuat kita jatuh, sehingga kita hanya berjalan. Adakah yang lebih cepat dan mudah dibandingkan berlari? Maka kita akan beradaptasi untuk itu. Namun sesuatu yang menggunakan alat bantu manusia, sangatlah terbatas.

Misalkan sepatu roda, skate board, sepatu ajaib dan lainnya, tidak dapat beradaptasi secara utuh dengan bumi. Pada akhirnya berlari adalah hal yang mudah dan menyenangkan. Bahkan ketika sudah dewasa, kita merasa senang jika bisa berlari, entah sekedar olahraga sampai permainan yang menguras tenaga.

Bumi dan langit sejatinya diciptakan agar manusia dapat mengambil manfaat darinya. Namun ketika manusia mulai bergantung pada ciptaan sesama manusia, maka dunia ini terasa sempit. Bumi ini tidak bisa memenuhi kebutuhan, langit tidak mendukung, hingga beberapa komentar bodoh lainnya.

Padahal bumi dan langit selalu ada, bahkan disaat kita merasa mereka tidak ada manfaatnya, karena Allah yang mengatur punya pengetahuan dan kekuasaan yang tidak dapat kita bayangkan. Namun kita terkadang sulit sekali bersyukur, karena kita selalu membandingkan ciptaan manusia dengan ciptaan manusia. Saat ini, bahkan beberapa orang yang merasa dirinya ‘terbaik’ di dunia, mulai mencoba untuk mencari bumi dan langit lain untuk hidupnya.

Dipublikasi di HIDUP | 1 Komentar

Tentang Rezeki (2)

Bukan hanya sekali, terlintas pikiran mendalam terkait kalimat, “da aku mah apa”. Ada teman bilang bahwa kalimat itu gak lucu kalau diulang terlalu sering.

Ketika benar-benar merasa bahwa diri ini gak bermanfaat, terbesit hikmah besar di Al Quran, bahwa Allah tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia. Itu berarti termasuk dengan penciptaan diriku.

Allah telah menciptakan, maka pasti ada tujuan. Ketika berfikir bahwa hidup ini sia-sia, engkau telah menentang Allah. Tenanglah, jangan sampai hilang kesabaran dan gelap mata.

Allah menciptakan dengan tujuan, kalau engkau hilang arah, lihatlah tuntunan. Jika masih belum terarah, bacalah sejarah. Jika belum bisa berubah, bersabarlah dan kuatkan kesabaran.

Rezeki manusia bukan hanya dengan kemudahan. Rezeki manusia sudah dituliskan lengkap dengan kesukaran. Sehingga kesalahan sikap manusia terjadi karena 3 hal : ketidak tahuan, penentangan kebenaran dan salah pengetahuan.

Dipublikasi di HIDUP | Meninggalkan komentar

Tentang Rezeki (1)

Di tengah hingar bingar dunia, muncul lintasan pemikiran yang baik, setidaknya bagiku. Dan aku berharap bagimu pula.

Kau tahu apa rezeki seorang bayi kecil? Rezekinya adalah ia memiliki orang tua yg memeliharanya dan kecintaan dari setiap orang yang menemuinya.

Kau tahu apa ikhtiar seorang anak kecil untuk mendapatkannya? Hanya tangisan…

Kini anak itu telah diberikat nikmat, berupa hati, fisik dan akal. Maka ia diminta berikhtiar sesuai dengan nikmat yg telah Allah berikan. Hanya itu, namun pastinya, tidak cukup hanya dengan tangisan.

Mengapa ketika kecil, kita rela menangis tanpa menyimpan tenaga cadangan? Karena kita yakin bahwa Allah akan memberikan rezekinya melalui orang terdekat kita.

Namun setelah dewasa, kita membatasi ikhtiar kita. Dengan alasan untuk tenaga cadangan, berjaga jika jalan ini bukan rezeki kita, resiko, kata orang berpendidikan.

Itu benar dalam hal kita mengambil pelajaran dari orang-orang sebelum kita. Namun salah ketika membuat kita menjadi kehilangan kesungguhan atas upaya kita.

Kau tahu apa yang kau butuhkan setelah berupaya? Biarlah Allah mengirimkan makhluk beserta kehendak-Nya, untuk memenuhi janji berupa rezeki pada diri kita…

Dipublikasi di HIDUP | Meninggalkan komentar

Menyapa sahabat diri

Hai, sudah lama gak nulis, berasa kehilangan sebagian diri yang lain. Sama seperti bertemu orang lain, kadang menjauh darinya membuat kita terbebas, walau bukan berarti senang. Kini aku kembali, sekedar untuk menyapa sisi lain dalam diriku. Ditengah gejolak yang ada di dunia ini, mulai dari persilatan politik, kerusuhan, peperangan, hingga musibah bencana alam, kelaparan, bunuh diri dan masih banyak lagi fenomena yang menyesakkan hati, sesaat aku berfikir untuk tidak memperdulikannya. Yah, sekedar hidup di dunia, tanpa menanyakan segala sesuatu ke dalam hati. Hidup hanya sekedar hidup, bergerak bergantung pada lingkungan.

Apalagi kalau sudah berinteraksi dengan lingkungan sekitar, yang harus seolah mematikan hati. Ah, itu hanya perasaanmu saja. Karena matinya hati dan rusaknya lingkungan, bukan bertentangan, namun sejalan. Rusaknya lingkungan selalu diawali dari matinya hati. Dulu, seseorang bicara tentang imunitas, kemampuan untuk bertahan menghidupkan hati di tengah rusaknya lingkungan. Hingga saat aku menyerah, aku hanya ingin jatuh dan terjerumus di lingkungan yang baik. Setidaknya hati tidak mati walau tidak dihidupkan.

Namun aku salah. Karena peperangan antara hati dan nafsu selalu terjadi. Jika kau tidak mewujudkan ekspresi dari hidupnya hati, maka kau akan membius dan membunuhnya, sekalipun berada dalam lingkungan yang sehat. Jangan pernah merusak hatimu, dengan tidak membiarkannya menunjukkan eksistensi kehidupan. Karena bukan sekedar hati yang hidup, namun lisan yang jelas menghidupkan dan raga yang akan membangun, adalah bagian dari hidupnya hati.

Diam berarti hatimu mati, walau kau menyatakan ia masih hidup

Dipublikasi di HIDUP | Meninggalkan komentar

Kita Mulai Kuliahnya

Baiklah, 10 menit lagi saya akan mulai kuliah perdana di program magister. Salah satu terobosan saya adalah belajar lebih dulu sebelum kelas mulai -yah, walau cuma 10 menit-. Kuliah ini berjudul “Project Planning And Control”, salah satu hal yang menarik dengan pengalaman hidup saya di proyek..

Ah, tapi saya tidak sempat belajar, malah nulis disini. Ya sudah, pelajaran pertama, kita cari teman kuliah yang baik dan memotivasi dulu… hoho

Dipublikasi di HIDUP | Meninggalkan komentar

Hari Ulang Tahun Ibu (HUTIBU)

Waaahhh……

Akhirnya hari ini tiba lagi, tanggal ulang tahun ibu. Assiiikkk!

Ibuku yang selalu dekat di hati, semoga Allah selalu meridhoi perkataan dan perbuatan ibu. Serta menerima semua amal sebagai ibadah, supaya hidup di dunia gak sia-sia, untuk meraih surga firdaus-Nya. Barakallah ibuku, untuk masa hidup yang dijalani, untuk setiap langkah mendidik dan merawat suami dan anak-anaknya..🙂

Dipublikasi di HIDUP | Meninggalkan komentar