“Saya adalah pemimpin, karena saya adalah ketua proyek ini, ketua kelompok itu, dan koordinator disana”
Ini adalah sebuah jawaban yang benar. Namun jawaban di atas, sangat terbatas untuk ketua dan koordinator. Bagaimana mungkin setiap insan menjadi ketua? Inilah hal yang paling menarik mengenai kehidupan manusia. Manusia diciptakan untuk beribadah dan menjadi pemimpin, apakah tiap manusia berarti harus memimpin seperti definisi diatas? Karena kita adalah makhluk yang telah diberikan pendengaran, penglihatan dan hati, kita harus bisa memberikan alasan yang benar. Bila ditinjau dari tujuan, kita akan melihat bahwa pemimpin tidak hanya memberikan perintah berupa arahan teknis dan tuntutan kepada orang lain. Namun juga memberikan sebuah “jiwa” dalam menjalankan organisasi.
Kita sadari bahwa tiap manusia berkumpul, pasti memiliki tujuan yang sama. Oleh karena itu, saat dua orang atau lebih berkumpul, harus ada pemimpin. Jadi, apakah itu pemimpin? Pemimpin adalah pemikiran yang dapat mengarahkan sebuah kelompok untuk mencapai visi bersama dan yang dapat mencabut rasa egois dalam diri, hal tersebut adalah paradigma.
Pemimpin sebagai posisi, dalam jangka waktu yang cukup lama akan membentuk pola pikir kita menjadi, ’saya adalah posisi saya’. Pola pikir ini akan menjadi sesuatu yang berbahaya di dalam kehidupan kita sehari-hari. Sebagai contoh yang paling berbahaya, kita akan menjabarkan dan melakukan sendiri apa yang kita rencanakan. Mungkin memang tujuan kita tercapai, namun hal itu sama sekali tidak membawa manfaat bagi orang lain, kita hanya memikirkan kepuasan pribadi. Ketika kita bicara masalah public, maka hal terpenting yang harus kita ketahui adalah management.
Menurut saya, management tidak memiliki arti yang pasti. Jika kita mengatakan bahwa management adalah kemampuan yang diberikan pada organisasi ataupun seni mengendalikan orang lain, semuanya tidak dapat menjelaslan management secara menyeluruh. Namun, saya meyakini bahwa management yang baik memiliki tanda-tanda dan kriterianya sendiri. Saya menangkap tanda-tanda management yang baik, diantaranya adalah :
1. Management yang baik, memikirkan sesuatu dengan proses yang logis dan sistematis. Bukan dengan bermimpi dan tidur. Namun management selalu mempertimbangkan apa yang kita usahakan, dan pengaruhnya kepada tujuan kita. Management yang baik selalu menuntut untuk memikirkan langkah kecil yang logis, namun dapat mengubah sesuatu secara sistematis yang artinya tidak mengubah menjadi sesuatu hal yang janggal, namun mengubah menjadi sistem yang ‘enak’ untuk dijalankan.
2. Management yang baik, memiliki tujuan yang dapat disampaikan dengan sangat jelas. Bukan berarti kita takut untuk bermimpi di luar batas normal -dalam artian yang baik tentunya-. namun tahapan-tahapan yang ingin dibangun, harus dijelaskan dengan rinci. Sehingga kita bisa melihat efektifitas kerja kita, dan dapat memperbaiki sistem jika diperlukan.
3. Management yang baik, dapat memanfaatkan sumber daya alam yang ada. Kita tidak membahas bahwa ‘tidak mencari sumber daya alam baru’, namun managment menuntut kita untuk melakukan yang terbaik yang pernah kita bayangkan dengan SDA yang ada. Bukan menyalahkan kurangnya SDA, namun melakukan sesuatu secara optimal dengan SDA yang ada.
4. Management yang baik, harus bekerja secara efektif dan efisien. Efektif berarti dapat mencapai tujuan yang kita harapkan, dengan perubahan seperti apapun yang sanggup kita penuhi. Efisien berarti memilih dari beberapa jalan yang telah terbukti dapat mencapai tujuan yang kita harapkan dengan modal minimum. Oleh karena itu, tidak mungkin kita bekerja efisien, sebelum kita bekerja efektif.
5. Management yang baik, sadar bahwa kita akan menjalani suatu proses. Bukan dengan revolusi, namun dengan evolusi yang membutuhkan tahapan yang perlahan. Sehingga kita dituntut untuk tetap stabil dalam menuju visi bersama.
Management yang baik, terwujud dari paradigma seorang pemimpin atau yang kita sebut pemimpin sebagai paradigma, juga berarti dia mengetahui tujuan dari apa yang sistem sedang jalani. Bukan orang yang pasrah dengan keadaan.
Memang kita selalu berbicara bahwa pemimpin bukanlah posisi. Namun apa fakta yang ada dilapangan? Benarkah kita dapat menjadi pemimpin secara sewenang-wenang? Lalu orang lain harus mendengarkan kita? Secara kasat mata kita bisa menyaksikan bahwa badan militer yaitu TNI, masih menjadi badan yang mampu menjaga konsistensi dan kedisiplinan anggotanya. Ini adalah fakta yang benar dan memiliki banyak bukti. Saya mencoba mencari tahu mengapa, dan penilaian saya pribadi adalah, mereka memiliki ketua dengan posisi yang sangat kuat dan wewenang yang terlihat sangat jelas berbeda.
Manusia sebagai makhluk sosial, sudah seharusnya berinteraksi dengan orang banyak. Pemimpin yang memberikan arahan teknis dan tuntutan juga dibutuhkan. Oleh karena itu, kita harus sangat jeli dalam menyerahkan posisi pemimpin kepada seseorang. Oleh karenanya, sangat banyak syarat yang biasa di ajukan untuk menempati pemimpin sebagai posisi yang biasa disebut ketua.
Syarat-syarat tersebut harus benar-benar diperhatikan, karena sebagai individu yang menjadikan pemimpin sebagai paradigma, seseorang yang menjadi ketua (posisi sebagai pemimpin) harus ditaati permintaan dan perintahnya setelah diberi penjelasan. Sebagai bawahan di posisinya, kita harus menghormati kebijakan yang diambil, tentunya setelah ada kejelasan dari ketua. Kita harus tahu, bagaimana menentukan orang yang layak menempati posisi ketua. Ini adalah sebuah implikasi logis bagi kita yang sepakat menjadikan pemimpin sebagai paradigma.
Seorang pemimpin, memang harus siap untuk dipimpin oleh orang yang memiliki wawasan lebih luas, kemampuan mendinamisasi yang lebih baik, hati yang bersih, lebih peduli dgn menyisakan banyak waktu untuk orang yang berada di bawah koordinasinya maupun masyarakat umum, serta profesional dalam menjalankan langkah-langkah menuju visi bersama.