Membangun Pribadi Negarawan : Mewujudkan Indonesia Yang Lebih Baik dan Bermartabat
Ditulis oleh rachmadani di/pada 1 April 2009
Di tengah kondisi Indonesia saat ini, dimana hampir seluruh lembaga nasional sibuk mempersiapkan pergantian posisi pimpinan Negara, hampir semua melupakan wujud dari kesatuan Negara kita. Mungkin memang kesatuan Negara selalu diucapkan dan dipaparkan saat kampanye maupun pembahasan yang ditujukan untuk rakyat. Mungkin memang benar, ketika calon presiden terpilih naik, maka ia akan melakukan yang terbaik untuk negaranya. Namun, Negara bukan hanya masalah siapa yang memimpin dan bagaimana kepemimpinannya. Negara adalah sebuah sistem kehidupan yang terdiri dari wilayah kekuasaan, pemerintahan dengan aturannya, serta masyarakatnya. Hal ini yang sudah sering dilupakan masyarakat Indonesia, bahwa suatu Negara tidak bisa berjalan jika komponen masyarakat tidak mendukung dan berjalan dengan baik. Dengan kesadaran yang tinggi atas kondisi ini, malahan oposisi dapat menghancurkan suatu masa pemerintahan dengan menghancurkan elemen Negara, baik masarakatnya ataupun wilayahnya. Dari segi oposisi yang ingin merusak masyarakat, dimana kelompok tersebut tidak suka dengan pemerintahan sekarang dan tidak berniat membangun Negara dengan status masyarakat, mulai menyebarkan berita yang tidak lengkap dan salah persepsi. Sebagai masyarakat yang pernah mendukung pihak lain ini, akan langsung mempercayai dan dapat memicu perpecahan masyarakat. Tidak ada keraguan dalam hati masyarakat untuk membela kelompoknya, karena sebagian masyarakat tidak mendahulukan untuk memeriksa kebenaran, serta masyarakat lebih mencintai kelompoknya dibandingkan negaranya.
Bila kita menarik pengamatan kita ke ruang lingkup yang lebih substantif, maka kondisi pemerintahan Indonesia yang berdiri atas azas demokrasi juga memiliki multi persepsi. Tidak semua elemen pemerintahan berniat untuk menciptakan pemerintahan yang stabil dan bermanfaat. Sebagian orang yang bekerja di pemerintahan mungkin merasa bahwa ia sudah menjadi sistem orang lain, sehingga ia tidak sepenuh hati menjalani tugasnya dengan professional. Ini digambarkan dengan kondisi pemerintah yang mudah bosan membahas Negara, dengan fakta di lapangan adalah mengantuk saat rapat dan banya celah diperaturan yang mereka buat sendiri. Dari kondisi ini, hal yang paling kita takutkan adalah orang yang tidak menerima pemerintahan sekarang, hanya memanfaatkan jabatan pemerintahannya untuk kepentingan kelompok dan pribadi. Misalnya mereka menjual lahan Negara kepada pihak asing untuk mendapatkan uang yang dimasukkan ke dalam saku pribadinya. Sekali lagi, hal ini membuktikan bahwa individu tersebut lebih mencintai dirinya sendiri dan kelompoknya, dibandingkan dengan rasa cinta kepada Negara.
Harus saya akui, Indonesia saat ini memiliki banyak politisi, ekonom, sosialis dan budayawan. Namun kondisi ini tidak didukung dengan moral negarawan. Secara pribadi, aktifitas saya di Keluarga Mahasiswa Islam Institut Teknologi Bandung (GAMAIS ITB) sebagai kepala divisi kaderisasi, memang harus mencapai keutuhan pribadi anggota dan pengurus aga mencapai pribadi muslim. Dengan terus mengejar mimpi untuk membangun karakter muslim, saya tetap menyempatkan untuk menyampaikan kondisi Indonesia saat ini. Kami dari tim kaderisasi selalu mencoba untuk meningkatkan kemampuan anggota dengan dialog tokoh, membedah buku, bahkan untuk sekedar makan bersama dalam suasana yang menggembirakan. Pola interaksi antara cewek dan cowok juga selalu kami jaga, hingga cukup banyak teman yang tertarik dan mulai bertanya-tanya untuk mendekatkan diri pada islam. Ruang lingkup organisasi saya memang di internal kampus, sehingga untuk aplikasi langsung kepada masyarakat masih kurang terlihat.
Dengan penuh kesadaran, saya memang membangun sistem kaderisasi dan mempererat ukhuwah antar anggota, namun kami bukan menciptakan manusia yang eksklusif. Bukan manusia yang tidak bisa menerima kondisi saat ini dan selalu mengharapkan revolusi. Bukan manusia yang hanya dapat bertahan dalam kondisi yang kondusif, bukan masyarakat yang selalu bekerja dalam kesendirian. Namun kami ingin membentuk masyarakat yang dapat bekerja sama dalam ranah kenegaraan serta mempengaruhi lingkungannya agar Indonesia bisa menjadi lebih baik. Untuk itu, kami ingin membentuk masyarakat yang memiliki kekayaan pemikiran dari berbagai referensi serta dapat mengeksplorasi pengetahuan yang mereka miliki. Masyarakat yang dapat menjelaskan pemikirannya melalui seluruh bagian yang inheren, akan tetapi juga tahan terhadap kritik dari luar. Bila kita pandang secara pragmatis, kepribadian masyarakat yang ingin kita bentuk adalah karakter pembelajar. Dalam proses pembelajaran, satu hal yang ingin saya pastikan adalah pembelajaran tidak memiliki akhir kecuali kita kehilangan nyawa.
Sampai saat ini, dalam mewujudkan masyarakat yang dapat bekerja sama dalam ranah kenegaraan serta mempengaruhi lingkungannya agar Indonesia bisa menjadi lebih baik, adalah menimbulkan kesadaran dalam diri teman-teman di GAMAIS FTSL, dengan memaparkan kondisi Negara saat ini beserta dengan latar belakangnya. Secara bersamaan mencoba memancing pemikiran kami untuk menerima fakta dan mengakui bahwa ada kesalahan. Namun saat ini kami memang belum merumuskan, langkah strategis dalam mewujudkan masyarakat yang dapat bekerja sama dalam ranah kenegaraan serta mempengaruhi lingkungannya agar Indonesia bisa menjadi lebih baik.
Sebuah bentuk pengabdian kepada masyarakat terdekat di lingkungan saya sekarang adalah dengan membangun badan organisasi masyarakat. Hal yang saya harapkan bukan menjadi konseptor baru, dalam artian, saya tidak ingin merusak sistem regional berupa RT dan RW. Namun, saya ingin membangun sebuah bentukan RT maupun RW yang mampu ‘mempekerjakan’ masyarakat di bidang politis. Masyarakat akan diarahkan untuk menjadi tokoh yang mencerdaskan tetangganya. Sehingga terbentuk rakyat yang mempelajari kondisi politik, bukan hanya menjadi budak politik. Saya menekankan pada politik, karena politik menyangkut keputusan di segala bidang masyarakat. Akan tetapi tidak melupakan bidang lain dalam berjalannya pemerintahan. Karena menurut saya, sistem yang sudah ada sangat layak untuk dijalankan, hanya bermasalah pada keberjalanannya.
Selain itu, saya mengusulkan hal ini karena memang mudah untuk membangun kesepakatan awal dengan RT dan RW setempat, namun pasti sangat sulit untuk menjalankan sistem yang baru dan tanpa aturan yang mengikat. Dalam forum ini, kita bisa membuat sistem pembangunan paradigma positif kepada rakyat, sehingga mereka juga memiliki pandangan mengenai usaha lain selain mengemis ataupun mengamen di tempat umum. Sehingga pembangunan paradigma mengenai kehidupan serta memberikan pencerdasan untuk membangun masyarakat negarawan. Tidak hanya menuntut tanpa dasar, namun juga memiliki wawasan global mengenai capaian pemerintah dan pengorbanan yang telah diperjuangkan. Dengan satu landasan yang sama, bahwa harapan kita adalah terbentuknya Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.

