Pemimpin bukanlah posisi (dari fb saya)
Ditulis oleh rachmadani di/pada 31 Maret 2009
Memang kita selalu berbicara bahwa pemimpin bukanlah posisi. Namun apa fakta yang ada dilapangan? Benarkah kita dapat menjadi pemimpin secara sewenang-wenang? Lalu orang lain harus mendengarkan kita? Lalu jika ada 2 orang yang ingin menjadi pemimpin, kita harus mengadakan pertarungan terbuka??? Wah kalau banyak yang mau, bisa jadi battle royal tuh! (semoga Indonesia saat ini tidak seperti itu)
Secara kasat mata kita bisa menyaksikan bahwa badan militer (TNI, polisi masih gak ya??) yang saya maksud adalah TNI, masih menjadi badan yang mampu menjaga konsistensi dan kedisiplinan anggotanya. Ini adalah fakta yang benar dan memiliki banyak bukti. Saya mencoba mencari tahu mengapa, dan penilaian saya pribadi adalah, mereka memiliki ketua dengan posisi yang sangat kuat dan wewenang yang terlihat sangat jelas berbeda. Mereka memiliki ‘kasta’ antar pasukannya, dan memiliki batas yang jelas menggenai hak dan kewajiban masing-masing. Jelas ini menunjukkan, bahwa pemegang wewenang hanya sebagian kecil dari komunitas.
Secara nasional, kita juga dapat menyaksikan, bahwa keputusan dalam skala nasional tidak pernah dibahas bersama 200an juta jiwa. Hal ini menggambarkan bahwa posisi pemerintah sudah jauh darii rakyatnya. Apakah ini salah? Menurut saya tidak.
Saya sedikit pun tidak mengatakan bahwa hal itu salah, karena pemimpin sebagai posisi memang sudah sewajarnya ada. Manusia sebagai makhluk sosial, sudah seharusnya berinteraksi dengan orang banyak. (baca bagian :1) Pemimpin yang memberikan arahan teknis dan tuntutan juga dibutuhkan. Oleh karena itu, kita harus sangat jeli dalam menyerahkan posisi pemimpin kepada seseorang. Oleh karenanya, sangat banyak syarat yang biasa di ajukan untuk menempati pemimpin sebagai posisi yang biasa disebut ketua.
Syarat-syarat tersebut harus benar-benar diperhatikan, karena sebagai individu yang menjadikan pemimpin sebagai paradigma, seseorang yang menjadi ketua (posisi sebagai pemimpin) harus ditaati permintaan dan perintahnya setelah diberi penjelasan. Sebagai bawahan di posisinya, kita harus menghormati kebijakan yang diambil, tentunya setelah ada kejelasan dari ketua. KITA HARUS TAHU, BAGAIMANA MENENTUKAN ORANG YANG LAYAK MENEMPATI POSISI KETUA. Ini adalah sebuah implikasi logis bagi kita yang sepakat menjadikan pemimpin sebagai paradigma.
Seorang pemimpin dengan karakter yang sudah dijelaskan di bagian : 2, memang harus siap untuk dipimpin oleh orang yang memiliki wawasan lebih luas, kemampuan mendinamisasi yang lebih baik, hati yang bersih, lebih peduli dgn menyisakan banyak waktu untuk orang yang berada di bawah koordinasinya maupun masyarakat umum, serta profesional dalam menjalankan langkah-langkah menuju visi bersama.

